Puisi Perjuangan By Rouf Alhuda

Puisi perjuangan
By Rouf Alhuda

Di Sungai Banten
Di sungai ini kukenang peradaban masa silam
Air yang mengalirkan sejarah
Batu karang, nagari perkasa di medan perang
Kini menjelma reruntuhan benteng
Yang menangis minta ingin ditulis
Ada kota-kota tanpa peta
Ada petani patah cangkulnya
Dan burung tak kembali ke sarangnya

Malam ini di sungai Banten selepas purnama
Kubayangkan wajah-wajah sultan
Kudayung ke laut karanghantu
Sambil menabuh rebana,  qasidah dan puisi lama
Untuk pengobat rasa cinta

Dalam acara sakral, kenduri cinta
Sambil menonton pertunjukan debus
Aku menjelma prajurit wanita
Mengusir penjajah Belanda, kurasakan darah Cut Nyak Dien
Masuk dan meronta
Dan R.A Kartini menyala dalam sukma
Dan darah Sultan Ageng Tirtayasa berkilat tajam
Bagai keris di punggung kuda

Setelah nagari abadi
Kota-kota tanpa api
Rumput dan padi membacakan puisi
Dengan derai angin musim pagi
Kuberikan padamu, pada kita semua
Wajah sultan yang keemasan
Bahwa benteng-benteng harus dibangun
Air harus dialirkan
Adzan-adzan dikumandangkan
Menyambut kejayaan nagari Banten nan abadi
Dengan senyum memandang perubahan
Nan bijak dan penuh peradaban

Serang, 2016

Puisi Perjuangan By Rouf Alhuda | Viola Bunga Rosita | 4.5