Sajak Sajak – Alim Nuryadi

Sajak Sajak
Oleh Alim Nuryadi

DIRI
Tonggak lapuk di padang nan hijau
Tiada mati, namun jua enggan  berdiri
Tiada pula ia bersemi
Meski padang subur bertabur do’a
Tiada pula yng ia serap
entah…
matikah ia…???
atau kah hatinya…??
R.I.P
dan lagi…
tinta merah tergores kembali
di lembar putih ia menetes
dengan kanvas kuasa illahi
dan melukis cerita abadi
bagai daun diterpa angin
yang gugur di ujung senja
tersapu angin,direngkuh sang bumi
maka ia kembali tanah
 daun gugur di ujung senja
memang akhir perjuangan nya
namun bukan kebaikan nya
abadi tinta yang tergores
tinggal kan cerita yang tak terhapus
kelopak yang mengatup
bukan layu karena terik
bukan pula lelah mengharum
 namun nyata ia t’lah berlalu
dan meski kuncup tlah mengatup
namun harum tetaplah harum
dan menyemi bagaikan hidup

yangmemberi hidup,bagi yang hidup.

ARAH
sehelai kapas tertiup angin
terbawa arah, tak tentu arah
begitu ketetepan hati bagai sehelai rambut
ketika kepercayaan menjadi tanya
dan ketika keyakinan menjadi sebuah keraguan

kebimbangan hidup, dalam menjalani hidup
namun tak mampu bekal ku tuk menghadap mu
sejuta harap tak kuasa bertahan
tertumpuk, menebal dan menjadi beban
mengikis dinding kepercayaan

bayang keputus asaan
kian mangikis menghimpit kalbu
menindih iman, dijantung kenistaaan

jerit kesesatan,
lambaian setan menggonggong
merangkul kemunafikan
jiwaku…hempas…
rangkul aku dengan  kasih Mu
angkat aku dengan nadhroh mu
jadikan aku cermin
tempat dimana kau memancar.

Baca Juga:

Sajak Sajak – Alim Nuryadi | Viola Bunga Rosita | 4.5